banner 728x250

Cerita Horor Air Terjun Pengantin Part 2

Air Terjun Pengantin

Yana : Siap, nanti saya yang di depan, jalan kesana lumayan jauh, tapi tidak ada tanjakan curam hanya menaiki beberapa bukit saja, untuk sumber air dari sini ke lapang hejo lumayan banyak kang, ada 3 buah sumber air jadi tidak perlu repot² banyak bawa air..
.
Kibo : Oke teman², demi keselamatan kita bersama, alangkah baiknya kita berdoa dahulu pada yang kuasa, agar perjalanan kita dilancarkan dan dilindungi, berdoa mulai ! *kami berdoa*, berdoa selesai! Ingat jaga kawan fokus jalan, disana kita saling menggantungkan nyawa! *kata penutup yang menggetarkan dari kibo*.
.
Tepat jam 07:30 pagi perjalanan dimulai…
.
.
‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍Kamipun mulai melangkahkan kaki kami, dengan posisi Kang Yana di depan lalu Arman, Kibo, Ica, Febby, dan Saya sebagai sweeper.

Diawali dengan melewati persawahan yang hijau, terlihat para warga desa ***** sedang sibuk melakukan aktifitasnya, sambil sesekali menyapa kami.

banner 336x280

Tidak begitu lama kami memasuki kebun kopi, disini jalanan mulai menanjak, dan masih ada beberapa warga yang sedang memanen kopi.
Kami terus naik hingga akhirnya kami sampai diatas bukit pertama. Ica meminta break “Ambil nafas dulu doong, engap nih !” kata Ica dengan nafas tersengal sengal.
.
Ya kami memang sudah berjalan 30 menit, dari sini terlihat jelas desa ***** dengan area persawahan yang begitu hijau, sungai yang jernih, kebun² kopi yang tertata rapih, dan angin yang berhembus sejuk menambah segarnya suasana pemandangan mata kami.
.
Break 10 menit kami lanjutkan perjalanan, “Semangaaat ca! Teriak Febby”, “Oke semangat!!”, timpal Ica. Jalanan kini sedikit mendatar lalu menurun, dari turunan ini sudah tidak terlihat persawahan tapi masih ada kebun kopi dan di bawahnya ada sungai kecil.
.
Kami melewatinya, jalanan kembali datar hanya saja rumput area ini sudah agak tinggi, mungkin sekitar setinggi betis kami. Kami terus berjalan dan sampai pada tanjakan bukit kedua. Bukit ini sudah tidak ada kebun kopi, pepohonan sedikit rimbun tapi masih terlihat sinar matahari.
.
Perjalanan baru dimulai.. Dan ini belum ada apa apanya dari apa yg akan kami temukan berikutnya…

Kami terus berjalan dan sampai pada tanjakan bukit kedua. Bukit ini sudah tidak ada kebun kopi, pepohonan sedikit rimbun tapi masih terlihat sinar matahari.
.
Lalu kami menaiki bukit kedua ini, Ica yang tadinya di depan febby melambat jadi berada di belakang febby, ia sesekali berhenti mengambil nafas, saya pun mengimbanginya dengan ikut berhenti.
.
Karena tugas saya sebagai sweeper, jadi tidak boleh ada seorangpun dibelakang saya. Febby dan yang lain nya terlihat sedikit menjauh.
.
Saya : Ayo ca, semangat !
.
Ica : Engap ben, aku belum kebiasa
.
Saya : Yaudah slow aja jalan nya, tenang ada aku dibelakang, nih minum dulu *saya berikan air yang ada si samping keril saya* lalu febby berteriak dari atas kami.
.
Febby : Caaa, been, aman?
.
Saya : Aman feb, lanjut aja tapi slow ya.
.
Febby : Okee.
.
Saya : Nanti kita break aja dulu diatas bukit ini.
.
Ica : Hayuuu lanjut *sambil meneruskan langkahnya*.
.
.
Akhirnya kami berdua sampai di atas bukit kedua ini menyusul febby dan yang lain. Ternyata mereka sudah mempersiapkan alat masak, ya kami memang belum makan nasi, diatas bukit kedua ini pemandangan tak kalah indah dengan yang pertama.
.
Kibo sedang sibuk memasang flysheet untuk kami berteduh, Kang Yana sedang melihat lihat ke arah bawah bukit ini, Febby dan Arman sibuk akan memasak, saya langsung sigap membantu kibo, Ica hanya duduk menyenderkan badan nya di sebuah pohon mungkin masih kelehanan. Semua sudah siap dan kami beristirahat menunggu makanan matang.
.
Kibo : Gue bangga tinggal di indonesia, lihat saja di sekeliling kalian, tanah ini ditanami apapun akan tumbuh, gue rasa tuhan sedang tersenyum saat membuat negeri ini
.
Febby : Tapi masih banyak manusia² serakah yang hanya memenuhi kepentingan nya sendiri !
.
Arman : Ya sekarang penebangan hutan dimana mana, habitat satwa banyak yang terancam, hewan buas kehilangan tempatnya dan turun mencari makan ke perkampungan, lalu akhirnya diburu ! siapa yang buas kalau gitu?
.
Saya : Makanya generasi kita lah yang harus merawat semua keberkahan ini.
.
Ica : Aku bangga bisa mengenal kalian gaes

Baca juga:  Pengalaman Horor KKN di Rumah Kosong Klaten

 

Yana : Kang setelah bukit itu *Sambil menunjuk bukit di depan* nanti kita akan memasuki hutan pinus, di sana kadang hujan turun mendadak, jadi siapkan saja mantel hujan nya. Setelah kira² 1 jam perjalanan, di tengah hutan itu nanti kita akan bertemu mata air pertama.
.
Saya melihat jam tangan saya menunjukan pukul 10:00. Setelah selesai makan, kamipun melanjutkan perjalanan, trek ini masih sama dengan bukit pertama dan kedua menurun lalu datar lalu naik lagi ke bukit ke tiga, ya sepanjang perjalanan ini jalan yang kami lalui hanya naik turun seperti roler coster.
.
Benar saja seperti Kang Yana bilang, dari atas bukit ketiga ini terlihat hutan pinus yang terhampar luas. Indah sekali
.
Kami istirahat sekitar 10 menit lalu lanjutkan perjalanan kembali, menuruni bukit dan memasuki hutan pinus itu. Dari sini aura nya sudah berbeda, terlihat di depan ada kabut tipis dan angin yang lumayan sedikit lebih kencang dari sebelumnya, tentu saja itu membuat udara disini semakin dingin.
.
Kami berjalan lurus kadang berbelok mengikuti arahan kang Yana yang berada di paling depan. Mungkin sudah sekitar 30 menit kami berjalan, tiba2 kami dikejutkan dengan suara petir yang begitu keras *kralaak duaaaar* “Astagfirullah” kami beristigfar… Dan benar saja tak lama hujan turun.
.
Arman dan Kibo di depan sana terlihat langsung sigap membuka flysheet untuk membuat bivak dadakan. Saya dan ica menghampirinya dengan setengah berlari, karena jarak kami memang cukup jauh, di bivak dadakan itu kami memakai jas hujan yang memang sudah kami siapkan.
.
Ica : Ini lanjut?
.
Kibo : Lanjut aja ca, perjalanan kita masih jauh
.
Saya : Tenang ca, gabakal aku tinggal ko.
.
Febby : Pepeeet terooos ben sampe dapet
.
Kibo : Beny mah mau nya itu, berterimakasih lah pada Kibo yang menugaskanmu menjadi sweeper.
.
Saya : Emang pada kampret lu pada hahaha.
.
Kami melanjutkan perjalanan dengan menerjang hujan, sesekali suara petir bergemuruh keras seperti berada diatas kepala kami.
.
Tiba² dari arah atas saya ada suara yang memanggil saya ” Beeeeeny, beeeeeny” suara nya serak² lirih seperti suara dari seorang nenek², relfeks saya melihat keatas.. Namun ternyata tidak ada apa apa…

Saya lanjutkan kembali langkah saya, lalu “tungguuuu !” kali ini dari arah belakang saya, saya menoleh kebelakang tiba² saya melihat Ica, Ica sedang berdiri menunduk di tengah hujan deras dan kilatan petir seperti memotretnya.
.
Posisinya sekitar 20 meter dari saya. Saya terkejut, haah Ica? Sejak kapan dia ada di belakang saya?, refleks juga saya kembali melihat kedepan, tapi benar saja Ica masih ada di depan saya, lalu saya kembali menoleh kebelakang, ternyata tidak ada siapa siapa!!!
.
Ica : Kenapa ben? Ko berenti?
.
Saya : Gak apa² ca, ayo lanjut aja *Sambil saya perhatikan ica dari atas ke bawah*
.
Ica : Apa si, liatnya begitu?!
.
Saya : Gak apa², ayoo ca
.
Febby : Beeeen, amaaan ben? *Febby berteriak
.
Saya : Aman feb !

Ya memang jika kami dirasa terlalu jauh olehnya, Febby selalu berteriak memanggil kami, jika kami tidak membalasnya dia pasti langsung menghampiri kami, itulah Febby.
.
Setelah beberapa lama, tiba lah kami di mata air yang Kang Yana maksud. Area nya masih di hutan pinus, hanya saja disini udara semakin dingin. Untuk ke mata air ini ternyata harus sedikit turun ke bawah arah kanan kami, disitu terlihat ada kubangan air yang mungkin hanya sebesar ban mobil truck.
.
Kata kang yana, air itu tidak pernah surut, tetap segitu dari dulu. Akhirnya Saya dan Kang Yana yang turun mengambil air untuk persediaan kami menuju Lapang Hejo.
.
Saat saya dan kang yana mengisi air, tiba² ada kilatan api terjatuh di arah kanan saya, refleks saya menoleh, terkejut bukan kepalang saya di melihat ada sepasang kaki manusia, besaaaar sekali, berbulu dengan kuku hitam yang panjang² dan luka bernanah yang mengeluarkan bau busuk sekali, sangat bau, sampai saya menulis cerita ini pun saya masih bisa membayangkan bau nya.
.
Saya tidak berani melihat keatas karena mungkin makhluk itu besar sekali, karena kedua kaki itu terlihat menembus keatas dahan dan daun² pepohonan. Lalu saya muntah karena tidak tahan mencium aroma busuknya yang sangat menyengat itu, tak ingin lama lama, walau beberapa tempat air masih kosong, kami memutuskan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

Baca juga:  Pertemuan dengan Shinta sosok Kuntilanak Sumatera Barat PART 3

Namun saat saya kembali, saya melihat ica sedang menangis…

Ica menangis dan yang lain nya sedang menenangkan ica.
.
Saya : Ada apa ini?
.
Kibo : Gatau ica tiba² nangis ben
.
Saya : Kenapa caa?
*Ica hanya geleng² kepala*
.
Saya : Kamu bisa masih bisa jalan? Apa mau istirahat?
.
Ica : Lanjut aja, ayo pergi dari tempat ini *Sambil berdiri dan mengusap air matanya*
.
Arman : Pasti ada yang gak beres nih, ayo cabut, gue gak mau bertemu malam di tempat ini !
.
Kami melanjutkan perjalanan, dengan sekarang posisi agak rapat dan berjalan saling mengimbangi, lalu kabut turun tebal sekali.. jarak pandang kami hanya sekitar 10 meter, Arman mengeluarkan tali yang ada di kerilnya, “Pegang tali ini, ikatkan ke tubuh kalian masing² !!” Perintah Arman.
.
Lalu kami ikatkan tali itu pada masing² tubuh kami, kami jadi terlihat seperti kereta yang tersambung gerbongnya. “Jalan nya kelihatan gak kaaang??”, teriak Kibo pada kang yana yang berada di depan nya, “masih terlihat kang, nanti sampai ada tanda pita kuning itu tanda kita naik ke bukit ke 4”.
.
Angin semakin kencang dan kabut semakin tebal sekarang jarak pandang kami hanya satu meter! sulit rasanya jika harus menemukan pita kuning pada situasi seperti ini. Kami terus berjalan seperti tanpa arah.
.
Lalu saya melihat kakek² itu kembali, seorang kakek² yang saya temui tadi pagi dibalik lumbung padi. Dia mengisyaratkan kepada saya untuk berbelok ke kiri, entah kenapa hati saya mempercayai nya, “Kiri bo!” teriak saya, “Yakin lu” balas Kibo, “Yakin !!”.
.
Kamipun berjalan ke kiri dan sekitar kurang lebih 15 menit, disitu ada pita kuning yang kang yana maksud, ternyata itu police line yang mengikat di pohon pinus besar.
.
Setelah menemukannya, kang yana kembali ingat jalur, kami pun naik ke bukit ke 4 dengan masih di terpa hujan, angin kencang, dan kabut yang tebal.
.
Setengah menaiki bukit ke 4 ini, kabut mulai menipis lalu menghilang, dan area ini terlihat jelas kembali, sontak saya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang saya lihat, ternyata jika kami tidak belok kiri tadi, kami semua akan terjun ke jurang! Jurang yang mungkin berkedalaman nya 30 meter atau bahkan bisa lebih dan di dasarnya itu banyak batu² besar.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah terimakasih, tak henti²nya saya mengucapkan syukur dalam hati. Kibo melepaskan ikatan nya dan menghampiri saya, memeluk saya bergelayutan di badan saya sambil berteriak teriak “I love you beny ! I love you “, yang lain nya pun mengikuti
.
Febby : Gimana lu tau depan kita jurang ben?
.
Saya : Naluri hati feb.
.
Febby : Apapun itu, makasih banyak udah selamatin kita. *febby memeluk saya kembali*
.
Saya : Kita lanjut aja yoo, nanti break diatas bukit ini aja kalau tempatnya enak.
.
Kibo : Oke ayo lanjut.
.
Jam di tangan saya menunjukan pukul 16:00 dan kami pun menaiki bukit ke 4 ini, selang 30 menit kami sampai di atas bukit, hujan pun reda matahari menunjukan kembali sinarnya, sekarang langit berwarna jingga, sore yang indah sekali diatas sini.
.
Entah badai atau bukan, demi apapun yang tadi kami lewati itu sangat mengerikan..
.
Terasa hujan sudah reda, jas hujan pun kami lepas. Dan kami beristirahat sejenak diatas bukit ini sambil menikmati matahari terbenam, aaah senja yang indaaaah dalam hati saya, terlihat Ica dan febby sibuk membuatkan kopi.
.
Sedikit lebih lama kami beristirahat menikmati waktu sore diatas bukit ini. Menghabiskan beberapa gelas kopi, beberapa batang rokok, dengan bersenja gurau.
.
Lalu matahari terbenam, kami melaksanakan sholat magrib berjamaah dan berdoa. Pukul 18:30, Kembali kami bersiap melanjutkan perjalanan, headlamp dan senter kami siapkan untuk menerjang gelapnya malam hutan di depan kami.
.
Kibo : Masih jauh ga kang ke lapang hejo?
.
Yana : Ngga kok, tinggal turun dan lewati hutan itu saja, mungkin sekitar 1 jam lagi kang, segini mah cepat atuh kita berjalan kang kibo, biasanya saya bertemu malam nya di tengah hutan pinus itu.
.
Kibo : Di tengah hutan pinus itu? Hiii *Kibo bergidik ngeri*, Okee akang di depan seperti biasa.
.
Yana : Siap
.
Kami pun menuruni bukit ini, waktu turun kami lihat tidak ada tanda apapun, sehingga kami berinisiatif memberi tanda arah turun bukit ini dengan handuk kecil milik Arman yg berwarna biru agar terlihat mencolok.
.
Memasuki hutan, kami berjalan beriringan dengan jarak berdekatan, suara kera² liar bersahutan seakan menyambut kedatangan kami..

Baca juga:  Cerita Horor Misteri 15 Bersaudara (Kisah Nyata) PART 3

Saya melihat ada banyak pasang mata merah memperhatikan kami, terlihat Kibo sesekali berhenti dan mengelus dada, mungkin dia juga menyadarinya.
.
Kami terus berjalan menembus hutan ini. Sesekali kang yana menebas rumput yang menghalangi jalan kami dengan goloknya.
.
Udara semakin dingin waktu itu, sampai tiba2 harum bunga melati begitu menyengat, “kayak dalam mobil ya?” celetuk arman, “sssst” timpal febby.
.
Tak lama kemudia Arman terlihat menutup matanya, lalu Arman berjalan miring dgn mengarah ke kiri, seakan-akan dia membelakangi sesuatu di arah kanan nya.
.
Benar saja, di arah kanan Arman saya melihat ada sesosok manusia dengan rahang yang hilang, sisa lidahnya saja yang menggantung sampai dada dengan bersimbah darah.. Satu mata nya melotot tajam satu matanya lagi menggantung keluar dari kelopak matanya.. Ia melihat kami yang satu persatu melewatinya…
.
Terakhir tentunya saya yang akan melewatinya, saat berpapasan dengannya tiba² dia menjulurkan lidahnya seperti ingin menjilat saya, “Lwlwlwlwlwlw” seperti itu mungkin bunyinya.
.
Saya ketakutan setengah mati. saya sedikit mendorong ica untuk melaju agak cepat, ica pun paham dengan mempercepat langkahnya, setelah melewati sosok tadi saya merasa lega, tapi tiba2 sosok itu tertawa dengan keras “Hahahahahaha”, dan saya tidak berani menoleh ke belakang, tidak penting juga menoleh kembali padanya.
.
.
Kami berjalan dengan terus menerus menghadapi gangguan, terlihat dari Arman yang kadang terkaget lalu mengucapkan “Astagfirullah”, Kibo yang tiba² diam mematung hingga di dorong oleh Febby, atau Ica yg sedikit² menutup mata sambil memegang tangan saya dan tangan satunya memegang pundak Febby, saya yg di belakang mereka melihat itu semua.
.
Lalu tiba² ada yg menarik jaket saya dari arah kiri, pertama tidak saya hiraukan, tapi dia terus menarik jaket saya, dgn penasaran saya menoleh.
.
“Astagfirullah..” kaki saya gemetaran, badan saya kaku, dan bibir saya tidak bisa berucap apapun, saya melihat ada sosok anak kecil tanpa kepala dengan memegang bola plastik!! “Om main yu?”
.
Lalu saya di tarik oleh Ica, “Tinggalin aja ben !” terlihat anak kecil itu melambai2kan tangannya masih memanggil saya.

 

NEXT               2       3       4

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »