banner 728x250
Horror  

Cerita Horor Misteri 15 Bersaudara (Kisah Nyata) (POV NARASUMBER) PART 4

Kisah Nyata Horor

Halo, kembali bersama saya Eno, narasumber cerita Misteri 15 Bersaudara sekaligus anak bungsu Ibu Winih. Terima kasih atas antusiasme dan doa yang diberikan pembaca semua pada cerita saya sebelumnya. Semoga dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa.

Diakhir cerita, memang saya tadinya tidak ingin menjelaskan lebih lanjut teror apa yang kami alami sepeninggal ibu, bahkan naskah pengalaman yang pertama kali saya kirim ke mwv sudah melalui banyak pengurangan dari sekian pengalaman mistis yang menyelubunginya. Namun melihat tingginya rasa penasaran, sekaligus setelah saya berunding dengan saudara saudara saya yang lain, saya memutuskan menulis cerita ini untuk melengkapi cerita saya sebelumnya..

banner 336x280

HororSaat saya berpikir untuk menulis cerita tentang keluarga kami beberapa waktu lalu, banyak hal yang jadi bahan pertimbangan, mengingat konflik dan kerumitan keluarga serta misteri misteri yang belum bisa terpecahkan hingga kini, membuat saya sempat ragu untuk membagikan cerita yang sebagian besar orang tak bisa mempercayai dan takut akan menjadi kontroversi.

Namun kembali saya mencoba mencari hikmah dan pelajaran dibalik kisah ini, hingga cerita pertama saya membuat banyak orang terkesan dan menjadikannya sbg motivasi.
Saya sangat berterima kasih, karena banyak yang mengapresiasi tulisan saya, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menulis part berikutnya kali ini atas permintaan tersebut.

Mengingat perjalanan hidup kedua orang tua saya, saya semakin mantap untuk kembali menulis.. Semua orang harus tau bahwa ada seorang wanita kuat yang telah memberikan kasig tulus dan pengorbanan besar sepanjang hidupnya demi buah hatinya tercinta.. Doa sebanyak banyaknya untuk beliau berdua, adalah salah satu tujuan utama saya menuliskan kisah nyata ini. Semoga kembali kita bisa mengambil pembelajaran dan hikmah didalamnya..

Baca juga:  Cerita Horor KKN Desa Penari, Inilah Cerita Lengkapnya. POV Widya

Untuk bagian kedua sepeninggal ibu ini, cerita akan berasal dari sudut pandang kak Dina, kakak saya yang rumahnya ditinggali oleh ibu di hari hari terakhir beliau hidup..

.
.
Sore itu kulihat beberapa saudaraku merapikan kursi yang jumlahnya hanya sedikit diambil dari rumah pak RT, tahlilan hari pertama untuk almarhumah Ibu nanti mungkin akan dihadiri beberapa orang saja. Karena kondisi sedang pandemi, pak RT tidak mengizinkan terlalu banyak orang berkumpul, kami harus menyadari hal itu. Namun jujur disisi lain aku merasa sedih, doa untuk ibu pasti juga akan berkurang karena tidak banyak orang yang datang.

Siang tadi setelah jenazah ibu dikuburkan, beberapa anak dan cucu ibu pamit izin untuk pulang terlebih dahulu, sebagian akan kembali nanti malam untuk mengikuti tahlilan, tapi sebagian lagi meminta maaf karena tidak bisa mengikuti tahlil dan harus kembali ke aktifitas mereka msing masing..

Dengan kesedihan yang membekas, aku mencoba mengikhlaskan kepergian mendadak ibu yang masih menyisakan sejuta misteri bagiku. Sebelum meninggal, ibu memang minta untuk tinggal bersamaku, jadi sengaja aku dan suamiku membuatkan kamar kecil untuk ibu didalam rumah kami.

Sore itu, dengan berat hati aku berjalan menuju kamar ibu, berniat rasanya untuk membersihkannya karna kamar itu yang akan kosong mulai dari sekarang. Sebagai gambaran, kamar ibu berada di belakang dekat dengan dapur rumahku, ada satu kamar mandi didalam kamar, yang hanya ibu yang menggunakannya. Sementara aku dan anak anakku menggunakan satu kamar mandi lain didalam rumahku.

Aku menata kasur yang selama ini dipakai ibu, masih tercium jelas aroma khas tubuh ibu disini, sedikit rasa kecewa dan tak percaya beliau pergi secepat ini. Usaha kami melakukan perjalanan ke Solo untuk mendapatkan “obat” justru membuat ibuku kehilangan nyawa.. kembali aku meneteskan airmata, berharap ibu tercinta masih ada bersamaku saat ini.

Baca juga:  Cerita Horor Air Terjun Pengantin PART 1

Diantara lamunan dan rasa rinduku, tiba tiba sekelibat bayangan lewat disampingku. Aku sempat menoleh dan tak mendapati apapun, lalu aku kembali merapikan kamar ibu yang terlihat sangat berantakan. Semenit kemudian aku melihat meja kecil di pojok kamar ibu bergerak dgn sendirinya.. Aku mengucek mataku utk memastikan apa yg kulihat bukanlah halusinasi, setelah kuamati kembali meja itu benar benar bergerak, bahkan bergeser dari tempatnya..

.
.
Aku refleks teriak dan manggil suamiku
“Mas, mas, meja ibu gerak sendiri mas!!”

“Hah Mana? gak ada, mungkin perasaanmu saja, sudah ya istirahat dulu, mungkin kamu capek dan terlalu mikirkan ibu”, jawabnya.

Selepas hari pertama tahlilan yang hanya dihadiri saudara dan 2 orang tetangga, kami berkumpul diruang tengah, mereka memutuskan untuk tinggal selama 7 hari guna mengikuti acara tahlil berikutnya dirumahku.

“Mbak, kalau semuanya tidur diruang tengah cukup gak ya?, soalnya kami takut tidur didalam kamar, semenjak ibu meninggal perasaannya gak enak, rasanya takut terus”, tanya Ani.

Ya memang.. Semenjak ibu meninggal pagi tadi, memang suasana di rumahku ini seperti berbeda, terutama di kamar ibu, seperti selalu ada sesuatu yg bergerak atau beraktivitas didalam kamarnya.. hingga untuk melewati kamar ibu saja, kadang aku harus mengajak orang untuk menemaniku.

“Ya gak apa apa nduk, aku juga takut kok.. padahal ini di rumahku sendiri, tapi mau masuk kamar saja merinding dan takut setengah mati. Tidur di tengah aja, nanti kalau gak cukup, biar anak anak ibu saja yang tidur disini, menantu menantu pulang saja gak apa apa”, jawabku memutuskan.

Baca juga:  Cerita Horor Misteri 15 Bersaudara (Kisah Nyata) PART 2

“Ya sudah, tapi aku tidur dirumah saja ya, kan dekat. Nanti kalau ada apa apa telpon saja, aku bakal langsung datang”, ujar mas Budi.

“Tapi anakku rewel mbak, aku pulang rumah aja ya, besok pagi aku kesini lagi. Lagipula aku gak yakin ruang tengah cukup untuk kita semua”. Sambung Eno si bungsu.

Jam 9 malam itu, akhirnya kami mengizinkan Eno pulang kerumah dan akan kembali besok pagi.

Baru beberapa langkah Eno meninggalkan rumah, kami semua dikejutkan dengan suara tangis yang sangat kami kenal…

Suara tangisan ibu…serentak kami semua saling pandang, karena dengan jelas dan yakin itu adalah suara tangisan ibu. Suara tangis yg sama saat ibu menangisi kepergian bapak dulu

Serentak kami memanggil Eno yg masih berjarak beberapa meter, tapi anehnya dia seolah tak mendengar teriakan kami. Ia terus berjalan menjauh.

Sesampainya Eno dirumah, aku segera menelponnya. “Nduk, kamu dijalan gak apa apa?, tadi kami panggil panggil kamu gak dengar ya???”

.
.
“Aku baru masuk rumah mbak, kenapa memangnya? Aku gak denger kalian manggil” Kata Eno

“Disini kami lagi nangis semua nduk, berapa langkah kamu keluar dari rumah tadi, tiba tiba kami semua dengar tangisan ibu, kenceng banget. Masa kamu gak denger?”, tanyaku.

“Astagfirullah,, aku gak denger sama sekali mbak”, jawab Eno terkejut dan sekaligus sedih.

 

NEXT    1   2   3

 

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »