banner 728x250

Cerita Horor Terror di Gunung Ciremai, Akibat Buang Pembalut Sembarangan!

dark mountain 2828348 960 720

Jadi gue kemaren ada ngebaca Cerita Horor Gunung Ciremai nih, yang menurut gue bagus karena banyak pesan moralnya juga. Jadi ini cerita karena ada temen di Facebook yang share, muncul lah di beranda. Karena ngeliat banyak yang likes & share, yaudah gue ikutan baca. Ini cerita aslinya dari Edge Mountain ya, dan gue reshare tulisannya kesini udah seizin dia juga.

banner 336x280

Kenalan dikit, jadi Gunung Ciremai (nama aslinya ‘Gunung Ceremai’ ya) masuk di wilayah dua kabupaten, Kabupaten Kuningan sama Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Gunung ini juga gunung paling tinggi di Jawa Barat.Nama gunung ini asalnya dari kata ‘Cereme’ (Phyllanthus acidus), tumbuhan yang ada buahnya kecil dan rasanya asem, tapi sering juga disebut Ciremai gara-gara biasa di Jawa Barat nama wilayah itu depannya ‘Ci’, jadi kebanyakan orang mikir namanya Ciremai padahal Ceremai.

Yaudah segitu aja kenalan sama gunung ini, selanjutnya masuk ke inti cerita horornya yang semoga ini bisa diambil pesan moralnya terutama yang suka main-main ke gunung. Bukan cuma di gunung aja malah, pesan moral cerita ini bisa diterapkan dimanapun.

Gubuk Via Pendakian Linggarjati
Gubung via pendakian linggarjati

Tidak ada yang salah selama kita naik, sampai puncak juga ngecamp. Masalah baru muncul menjelang kita turun, di Pengasinan Ayu haids. Setelah memasang pembalut, kita langsung turun. Pamit sebentar dengan pendaki Wonosobo yang kemarin sempat ngobrol dipuncak. Mereka menyarankan ngecamp semalam lagi karena sudah mulai sore. Tapi karena besok kita berdua kerja, ngecamp semalam lagi jelas ngga mungkin.

Masuk hutan lagi. Ayu jalan duluan, aku dibelakangnya biar bisa mengawasi. Kita berjalan pelan. Jalur Linggarjati agak bahaya untuk dibawa lari. Sebentar-sebentar Ayu minta istirahat. Mungkin pengaruh haids. Keanehan mulai terasa ketika kita melewati pos Sanggabuana, kita tidak bertemu satu pendaki pun yang naik. Padahal ramainya pendaki inilah yang membuat saya berani turun walau kesorean.
Jam 5 sore kita sampai di pos Batu lingga. Ada sedikit tanah lapang buat kita istirahat. Disini kita masak mie dan nyeduh kopi.

Gimana di, udah sore banget. Ngecamp lagi apa gimana?” Kata Ayu. Mukanya cape dan khawatir.”Lanjut aja Yu, sekalian cape.” Kataku.
Setelah dirumah barulah aku tahu, kesalahan fatal dibuat disini dan di Sanggabuana. Ayu cerita, waktu di Sanggabuana, dia sebel banget harus bentar-bentar berhenti karena kasih jalan pendaki yang mau naik. Dia sempet ngomel, “Andai ngga ada yang naik lagi, enak nih turun, ngga keganggu”
Entah kebetulan atau tidak, memang betul kami tak pernah lagi berpapasan dengan pendaki lain.Kesalahan kedua, dan yang paling fatal. Di Batu lingga Ayu membuang bekas pembalut nya ke kerimbunan semak. Mulai dari sini sampai bawah adalah terror.

Baca juga:  Pertemuan dengan Shinta sosok Kuntilanak Sumatera Barat PART 2

Beres-beres peralatan. Packing ulang. Kita langsung jalan. Hari sudah gelap karena menjelang magrib. Ayu didepan, aku dibelakang. Bulu kuduk mulai berdiri. Rasanya diantara semak, dibalik pohon, disetiap tempat yang gelap ada yang mengawasi. Kepalaku mulai nyeri. Berdasarkan pengalamanku, kepala yang nyeri biasanya ada aktifitas mistis.
Di belokan hutan, aku kaget melihat Ayu berhenti dan badannya menghadapku. Suaranya gemetar, dia bilang, “Di, lu jalan duluan ya. Gw pegangan keril lu ya“. Aku mengangguk. Jadi sekarang aku jalan duluan, sementara Ayu pegangan carrierku dibelakang. Jalanan sudah gelap total. Penerangan cuma dari cahaya headlamp.
Dari sudut mata aku melihat ada bayangan hitam yang berdiri di pohon, tapi waktu aku menoleh tidak ada siapapun. Lalu ada suara bisik-bisik yang jelas sekali, yang tadinya kupikir pendaki yang naik, nyatanya jalur didepan cuma kosong dan gelap tidak ada siapapun. Disini aku berdoa dalam hati mohon perlindungan.

Tiba-tiba Ayu menangis, dia jatuh terduduk, kepalanya disembunyikan di lututnya. Dalam sesenggukannya dia berulangkali menyebut pocong… Pocong .. Pocong. Mendengar itu bulu kudukku berdiri total. Kulihat segala arah dengan panik. Sosok itu tidak ada. Aku membujuk Ayu untuk berjalan lagi, sambil mengingatkan untuk berdoa.
Akhirnya Ayu mau berjalan lagi setelah matanya kututup dengan buff. Dengan cara ini, Ayu tidak lagi histeris, tapi jalan kami jadi luar biasa lambat. Sepanjang jalan aku masih terus melihat kelebatan-kelebatan hitam. Kadang semak-semak yang bergoyang sendiri. Suara-suara dalam bahasa sunda yang aku ngga ngerti artinya terdengar entah ditelinga entah suara pendaki yang terbawa angin.

Baca juga:  Cerita Horor Air Terjun Pengantin Part 2

Badanku gemetar ketika ada sebuah bayangan diujung jalur, dia jongkok dibawah pohon. Kali ini bayangan itu tidak hilang. Aku istighfar semakin kencang, Ayu memegang tanganku dengan erat. Semakin mendekat, kami akan terpaksa melewatinya karena sosok itu tepat di pinggir jalur. Nyaliku habis. Aku diam ditempat. Gemetar dan keringetan.
Kali ini Ayu sudah memelukku. Dia walau tidak melihat apa-apa tentu merasa ada yang ganjil. Lama aku berdiri berharap sosok itu hilang, sehingga kami bisa lewat. Tapi dia tetap disana. Tiba-tiba punggungku ada yang menepuk. Seorang pendaki yang sedang turun. Alhamdulillah kami selamat, aku lega.

Dia melambaikan tangan mengajakku jalan. Aku langsung bergerak. Sosok itu sudah hilang. Aku mengikuti pendaki ini hingga tiba-tiba dia hilang dikegelapan. Sebuah suara pelan terdengar, “Jalan lurus aja bang, jangan tengok kekiri“.

Aku dan Ayu masih terus merayap pelan. Teror nyata bercampur dengan halusinasi membuat mentalku semakin lemah. Sedetik yang lalu aku melihat tangan keluar dari tanah, ternyata hanya akar. Dalam keadaan ini akhirnya aku ambruk. Suara istighfar pelan masih terdengar dari mulut Ayu. Aku terbangun saat merasakan air segar di mulutku. Ternyata Ayu menuangkan air agar aku siuman.
 
Kami mulai berjalan lagi. Keadaan sekarang berbalik. Aku yang hampir tidak punya tenaga tersisa dipapah oleh Ayu. Kelebatan-kelebatan bayangan masih terlihat diantara pohon. Disuatu tempat aku bahkan melihat kaki yang berayun-ayun. Tak berani memastikan kaki siapa, aku memejamkan mata.
 
Setelah melewati turunan yang agak tajam, aku melihat dikiri jalur ada tenda. Aku lega bukan main, akhirnya kami selamat. Tiga orang tampak sedang mengelilingi api unggun. Satu orang melihat kami, dia melambaikan tangan. Aku dengan gembira setengah berteriak ke Ayu. “Yu, kita mampir dulu kesitu. Ngopi, istirahat, besok aja jalan lagi,” sambil menunjuk ke arah tenda.
 
Tiba-tiba Ayu menamparku dengan keras sambil berteriak-teriak histeris, “di, sadar di! Istighfar!! Ngga ada apa-apa disitu!!
 
Tiga orang itu sekarang semuanya melambai-lambai memanggil. “Itu ada orang Yu, ayo kesana. ngga enak, udah dipanggil-panggil. Ayo Yu…
 
Ayu menamparku lebih keras sambil berteriak di kupingku menyuruh istighfar. Kali ini ketika aku menengok ke kiri ketiga orang itu sudah berjarak satu meter didekatku, sambil nyengir aneh, tiba-tiba kepala ketiganya lepas dan jatuh ketanah. Sambil cekikikan kepala tadi menggelinding ke arahku.
 
Aku histeris dan langsung lari. Beberapa lama baru aku sadar, aku meninggalkan Ayu dibelakang. Kakiku lemas, jantung berderap kencang. Mau balik menyusul Ayu, aku kelewat takut. Tapi tak lama kulihat Ayu berjalan turun. Begitu dekat, dia cuma menepukku mengajak jalan lagi. Aku berjalan mengikutinya dibelakang.
 
Tapi pelan-pelan aku memperlebar jarak dengan Ayu. Terus terang aku ngga yakin, Ayu yang jalan didekatku adalah Ayu temanku. Segala doa aku panjatkan. Ada rasa, menyesal kenapa aku tidak hapal ayat kursi.
 
Aku berjalan dengan mata menatap ke tanah. Karena di sekitarku penampakan ada di mana-mana. Bahkan sambil mata terpaku ke tanah, aku bisa melihat disebelahku ada kaki kaki yang kulewati. Ada yang kecil, besar. Ada yang hitam. Ada yang memakai kain putih.
 
Jantungku serasa mau copot ketika Ayu yang berjalan tiga meter didepanku tiba-tiba berlari dan langsung naik ke pohon sambil tertawa cekikikan. Aku langsung putar arah, lari keatas lagi. Tidak jauh aku lihat Ayu bersandar dipohon sambil menangis. Instingku mengatakan ini Ayu yang asli. Tapi begitu kusentuh dia berteriak-teriak histeris.
 
PERGI!! PERGI!!
 
Dia langsung jatuh lemas saat dia sadar aku yang menyentuhnya.
 
Di, ini elu kan?
 
Kami dengan badan gemetar dan doa-doa mulai berjalan lagi. Semua penampakan muncul. Ada yang bertengger dipohon, kepala yang menyembul di semak-semak. Bau-bau busuk dan wangi melati yang berganti-ganti. Aku dan Ayu berusaha tetap berjalan ditengah jalur. Kami sangat takut jika terlalu kiri atau kanan ada tangan yang akan menarik kami ke semak.
 
Belum lagi suara-suara. Ada suara yang terdengar marah tapi dalam bahasa Sunda, ada yang tertawa cekikikan, ada yang mengucapkan assalamu’alaikum berulang-ulang. Aku sempat berlindung dibalik pohon ketika melihat kuda lewat tanpa ada penunggangnya.
 
NEXT 1 2 3 4 5 6
 

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »