banner 728x250

Jangan FOMO! Ini Strategi Aman Beli Saham IPO

Jangan Fomo

Jakarta – Beberapa saat lalu banyak beberapa perusahaan mulai melantai di bursa efek Indonesia (BEI) atau lakukan initial public offering (IPO). Ada perusahaan yang sahamnya langsung melejit pada hari awal dan seringkali yang amblas pada hari pertamanya.
Disamping itu euforia IPO ini banyak juga dirasa oleh investor-investor yang hanya ikutan karena ramainya info berkaitan saham itu. Saat sebelum memboyong beberapa saham IPO ini sebetulnya ada banyak hal yang perlu jadi perhatian.

Ini untuk meminimalkan resiko yang dijumpai dalam beberapa saat di depan dan juga bisa untuk latih analitis gerakan harga saham dan prospect di pasar.

banner 336x280

Founder LBP Institute, Lucky Bayu Purnomo menerangkan untuk beli saham IPO ini seharusnya dipisah per pos modal. Misalkan sekitar 30% dari modal yang dipersiapkan untuk beli saham IPO ini ditaruh pada hari awal.

“Maka janganlah 100% membeli hari awal, 30% saja cukup. Lantas 1 minggu selanjutnya baru membeli 20% kembali dari modal,” katanya, Senin (4/4/2022).

Lucky mengatakan, untuk gelombang ke-3 dapat diperoleh dalam periode waktu tiga bulan selanjutnya dengan peruntukan 50% dari modal yang ingin dibelikan saham. Ini karena satu bulan awal dan bulan ke-2 dapat dipakai oleh investor untuk menyimak bagaimana animo pasar pada saham itu.

Baca juga:  GoTo Gojek Tokopedia sediakan dana sampai Rp 310 M buat Driver Gojek

Dapat dengan menyaksikan volume dan nilai transaksi bisnisnya. Seterusnya, investor harus juga menyaksikan management keuangan perusahaan. “Janganlah lupa memerhatikan prospect atau beberapa program perusahaan sepanjang setahun di depan. Jika pada sebuah tahun raihannya nyaris dekati prospektus itu menggambarkan perusahaan lumayan baik. Jika tidak raih sasaran ya lebih bagus analisis kembali, timbang kembali dan selekasnya menempuh cara selanjutnya,” terang ia.

Ia menambah, memang saat ada IPO sebuah perusahaan ada yang naik dan turun secara cepat. Lucky menolak bila hal tersebut ialah permainan bandar. Ia mengatakan bila hal tersebut ialah tanggapan pasar, bila harga tinggi karena itu prospect baik. “Permasalahan kerja bandar atau mungkin tidak itu lain narasi ya. Yang terang saat harga satu perusahaan naik karena itu ia bisa animo dari pasar, ada tanggapan karena perusahaannya menarik,” terang ia.

Baca juga:  Langkah buat wallet xapo cuma 5 menit gratis ongkos transaksi

Disamping itu saat beli saham IPO ini, investor harus juga memerhatikan bidang yang berkembang atau sedang baik sekarang ini. Ia memberikan contoh, ada sebuah perusahaan property yang ingin IPO, tetapi tetap ada bayangan tidak berhasil bayar karena COVID-19, walau sebenarnya banyak property yang masuk IPO.

“Sebetulnya perusahaannya bagus, tetapi bidangnya tidak sedang menarik. Ini bisa juga memengaruhi harga di pasar. Yang perlu janganlah lupa beli saham emiten yang sesuai keadaan pasarnya. Tidak boleh sembarangan,” terangnya.

Membeli Saham IPO Tidak boleh FOMO
Lucky menerangkan, bila beli saham IPO ini tidak boleh ikut-ikutan atau ikutan. Ia mengatakan banyak orang memandang momen IPO ini ialah yang sebetulnya, walau sebenarnya ide IPO harus juga dilihat apa yang terjadi sesudah go public.

Karenanya investor harus juga menyaksikan performa perusahaan dengan cermat. Menyaksikan keadaan esensial sampai memandang keterkaitan tindakan korporasi itu. “Jadi jangan sampai pakai IPO itu untuk mencari untung, karena pada IPO harga itu belum tercipta. Dapat tercipta sesudah 3 bulan, itu telah kelihatan trend harga,” terang ia.

Baca juga:  Langkah buat wallet xapo cuma 5 menit gratis ongkos transaksi

Lucky menganalogikan saat IPO, perusahaan seperti baru menempatkan produk berjualan di meja dan etalase showroom. Transaksi bisnis baru dilaksanakan hari itu dan cuman sementara . Maka seharusnya IPO ini jadi arah periode panjang dengan formasi modal 30, 20 dan 50.

Head of Pasar Research Infovesta Khusus, Wawan Hendrayana mengutarakan untuk beberapa investor periode panjang sebenarnya tak perlu FOMO saat beli saham IPO.

“Investasi saham ialah proses berkaitan dan tidak sempat ada kata telat,” katanya. Ia mengutarakan investor dapat wait and see dahulu menyaksikan neraca keuangan Desember 2021 dan Maret 2022 yang selekasnya keluar untuk menyaksikan esensial perusahaan apa ke arah arah yang lebih bagus saat IPO.

Ia menerangkan memanglah tidak ada betul keliru dalam investasi jika sudah sesuai risk profil dan arah investor. “Dengan menyaksikan prospeknya karena itu anjuran saya prioritaskan mempunyai keluar strategy seperti cutloss yang disiplin misalkan rugi 15% dan sasaran untuk keuntungan taking,” terang ia.

 

Halaman

1     2

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »