banner 728x250
Berita  

100 Pabrik Sepatu Pindah ke Jawa Tengah demi Upah Murah

Industri Sepatu

Baru baru ini muncul berita bahwa Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencatat dalam waktu 4 tahun terakhir, sekitar 100 pabrik sepatu pindah dari Bekasi dan Tanggerang menuju daerah yang memiliki standar upah regional yang rendah.

Hal tersebut benar terjadi dan menjadi buah bibir selama beberapa waktu di jagat maya terutama pada tahun 2019 lalu. Saat para pengusaha ramai melakukan relokasi pabrik dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, mereka meninggalkan Jawa Barat lantaran tak kuat dengan beban upah yang ditetapkan.

banner 336x280

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, untuk tahun 2019 lalu, pabrik yang direlokasi ke Jawa Tengah berjumlah 140 pabrik. Itu termasuk relokasi dari Jawa Barat.

Hal ini di benarkan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, beliau menuturkan bahwa sudah ada 100-an lebih pabrik dari Jawa Barat pindah ke Jawa Tengah, saat diwawancarai media 2019 lalu.

Baca juga:  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Bahkan Gubernur Jawa Barat menetapkan Upah Minimum Kota/ Kabupaten (UMK) melalui surat edaran untuk menghindari semakin banyaknya pabrik yang pindah. Hal itu dimaksudkan agar pengusaha yang tak kuat dengan beban upah yang ditetapkan bisa bernegosiasi dengan para pekerjanya.

Namun apalah daya para pengusaha lebih memilih memindahkan pabrik ke jawa tengah secara bertahap karena dirasa hal tersebut lebih mudah dilakukan dibandingkan menegosiasikan dengan para pekerja yang seringkali menemui jalan buntu, sehingga mau tidak mau pengusaha harus mengambil pilihan untuk bertahan dengan gaji yang tetap atau memindahkan pabrik pada provinsi lain.

Selain itu kondisi pandemi yang membuat hasil produksi tidak menorehkan penjualan yang memuaskan, sehingga terjadi pembengkakan pada ongkos produksi termasuk beban gaji karyawan.

Baca juga:  Peraturan Mudik 2022 terlengkap

Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan, dengan perpindahan pabrik tersebut, membuat pengusaha dapat lebih banyak menggaet karyawan baru untuk produksi yang yang lebih.

“Contoh kita lihat di Tanggerang, Bekasi kan UMR-nya kurang lebih sekitar Rp4,3 juta. Kalau kita lihat di Jawa Tengah, itu ada yang Rp1,6 juta, ada yang Rp1,8 juta. Jadi perbedaan dengan jumlah karyawan yang begitu besar itu perbedaannya dengan signifikan,” ujarnya pada awak media.

Eddy menjelaskan, selisih gaji yang jauh dapat menutup biaya operasional yang sebetulnya lebih jauh dari target pasar, dibanding mendirikan pabrik di bekasi atau tanggerang.

“Contoh 1.000 orang saja itu kalau selisihnya (upahnya) Rp1 juta, itu kan kurang lebih kan sekitar Rp1 miliar kita bisa hemat, apalagi kalau karyawannya 10 ribu,” sambungnya.

Baca juga:  Menag Kecam Penembakan di New Zealand: Tak Berperikemanusiaan!

Menurutnya saat ini infrastruktur yang dibangun pemerintah sudah cukup memadai untuk sebuah perjalanan ekspedisi. Sehingga biaya transport tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan gaji yang dibayarkan.

“Hampir semua pabrik yang pindah itu mengalami kenaikan karyawannya, jadi ini sebetulnya pertanda baik, bahwa dalam waktu 3 sampai 4 tahun kedepan itu justru industry itu akan ada di Jawa Tengah,” sambungnya.

Dengan hal tersebut Eddy optimis dapat mendongkrak indusri alas kaki kedepannya, yang pada saat ini menargetkan kenaikan 10% sampai akhir tahun jika dibanding tahun sebelumnya.

“Saya kira dengan sisa waktu 3 bulan ekspor kita sekarang ini, malah kita optimis USD5,2 miliar itu bisa tercapai, bahkan kita menghitung itu bisa mencapai USD5,4 miliar, karena kenaikan 4 bulan terakhir ini itu ordernya bukan menurun tetapi bertambah,” pungkasnya.

 

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »