banner 728x250
Opini  

Seniman Favorit Jadi Pelaku Kekerasan Seksual: Berhenti Nikmati Karyanya atau Tidak?

Cancel Culture

Topik diatas berhasil membagi pendapat warganet menjadi 2 kubu yang saling berseberangan, sebagian orang merasa seniman dan karyanya sebagai hal terpisah, sehingga sah saja menikmati karya pelaku kekerasan seksual, tetapi yang lain berpendapat sebaliknya.

banner 336x280

Untuk kalian yang belum tau, sederet figur publik diatas diduga atau telah terbukti menjadi pelaku kekerasan seksual. Mengetahui fakta mencengankan tersebut reaksi para fans pun beragam: Ada yang percaya ia terlibat dalam kasus itu dan berhenti mengaguminya, ada pula yang tak peduli dan tetap setia pada karya mereka, karena mereka menganggap karya yang bagus dapat berasal dari siapapun.

Skandal Publik Figure
Skandal Publik Figure

Fenomena orang-orang yang mulai meninggalkan kekaguman atas sosok favorit akibat kasus kekerasan dan memboikot karya-karya mereka adalah contoh cancel culture. Merriam Webster Dictionary mendefinisikan hal ini sebagai praktik atau kecenderungan untuk membatalkan secara massal [kesukaan terhadap karya atau orang tertentu] Hal tersebut ditunjukkan sebagai cara mengekspresikan penolakan dan tekanan sosial. Tak hanya terkait kasus kekerasan seksual, cancel culture juga berkelindan dengan masalah-masalah sosial lain seperti rasialisme, sikap homo/transfobia, atau masalah terkait lingkungan.

Dilansir The New York Post, Profesor Sosiologi dan Kriminologi dari Villanova University Dr. Jill McCorkel menyatakan, cancel culture faktanya telah berakar sejak lama dalam sejarah manusia. Sejak dahulu masyarakat sudah menghukum orang-orang yang dianggap melanggar norma sosial dan cancel culture merupakan salah satu dari variasi hukuman itu.

“Pada saat yang sama, ini menguatkan pembagian politik dan rasa solidaritas, setidaknya di antara orang-orang yang melakukan canceling,” kata McCorkel.

Pro-Kontra Cancel Culture

Jika kita membahas tentang cancel culture, opini publik terbagi menjadi dua kubu yang berseberangan. Survei Pew Research Center pada tahun 2021 ini terhadap warga Amerika usia dewasa misalnya mencatat, 58 persen responden yang menyatakan bahwa calling out orang-orang tertentu (dalam upaya menerapkan cancel culture) bertujuan mendesak mereka untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Sementara 38 persen responden menilai hal ini lebih bertujuan menghukum orang-orang yang tidak pantas menerimanya.

Lebih lanjut dinyatakan, orang-orang yang memandang negatif cancel culture merasa tindakan ini tidak efektif dan jelas-jelas kejam. Selain itu, ada pandangan cancel culture merupakan wujud penyensoran, pembatasan kebebasan berpendapat, dan upaya menghapus sejarah. Mereka yang punya pandangan ini juga menilai, cancel culture bisa saja dilakukan hanya karena sekelompok orang punya pendapat lain dengan orang tertentu dan karenanya menjadi aksi yang tidak bijak karena tidak membiarkan adanya perbedaan cara pandang.

Sementara, mereka yang pro terhadap cancel culture merasa upaya ini pantas dan efektif dilakukan untuk memberi efek jera pada pelaku/terduga pelaku, karena biasanya proses hukum belum tentu menjamin ditegakkannya keadilan. Lewat cancel culture yang marak di media sosial ini, mereka berharap kesadaran dan kewaspadaan masyarakat luas terhadap orang-orang yang di-call out juga meningkat sehingga mereka bisa berpikir ulang untuk terus mendukung atau mengonsumsi karya-karya public figure yang mereka favoritkan dulu.

Perdebatan tentang menikmati Karya sang Seniman

Sebagian orang berpendapat, suatu karya dan sang seniman adalah dua entitas terpisah. Jadi seandainya sang seniman terjerat dalam suatu kasus yang secara moral tidak dibenarkan di masyarakat, mereka merasa karya-karya seniman seperti lagu, film tersebut sah-sah saja untuk tetap dinikmati khalayak ramai, apalagi jika karya tersebut sebuah masterpiece serta sejalan dengan selera dan mewakili pengalaman mereka.

Ambil contoh kasus Michael Jackson, R. Kelly, Woody Allen, atau Bill Cosby. Mereka punya kontribusi tidak sepele di dunia seni dan karya-karyanya telah diakui dunia.

Sejumlah lagu Michael Jackson seperti “Earth Song”, “Black or White”, dan “Heal The World” dianggap banyak orang sebagai karya apik yang mengangkat isu lingkungan dan sosial. Bahkan, sebuah artikel di IndiaToday mengangkat tajuk “Why Michael Jackson’s songs on climate change and racial inequality need to be youth anthems now”. R. Kelly tidak hanya menjadi solois ternama, ia juga berkontribusi dalam lagu-lagu musisi papan atas mulai dari Celine Dion sampai Lady Gaga.

Dalam kolomnya di DW, Nicole Hemmer menyebut karya-karya Woody Allen signifikan dalam perkembangan sejarah film Amerika, sementara The Cosby Show menjadi kunci untuk memahami persoalan representasi di media termasuk isu ras, kelas, dan penerimaan. Ia percaya bahwa penting untuk tetap membuat karya-karya mereka tetap dapat diakses.

Walaupun begitu, Hemmer tidak bisa lagi memandang para seniman yang disebut terlibat skandal tersebut dengan tatapan yang sama dan selalu akan ada jarak yang membatasi akibat skandal tersebut. Karena ada pertimbangan moral yang tidak bisa dilepaskan dalam dirinya dan mempengaruhi pilihan tindakannya kemudian dalam mengonsumsi karya-karya artis tertentu.

Hemmer kemudian mengangkat dilema saat mengambil contoh lain, yakni soal canceling film-film yang diproduseri Harvey Weinstein. Laki-laki ini melecehkan banyak perempuan termasuk para aktris yang bekerja untuknya seperti Salma Hayek dalam film Frida. Di satu sisi, orang bisa membenci dan memboikot film-film yang dihasilkan oleh Weinstein akibat pelanggaran moral yang diperbuatnya. Namun di lain sisi, Film Frida menjadi salah satu dokumentasi penting yang menggambarkan pelukis ikonik asal Meksiko Frida Kahlo dan telah melibatkan kerja keras banyak aktor termasuk Hayek.

“Menghindari film itu karena itu adalah produksi Weinstein menghukum perempuan yang telah mengalami pelecehan ketika ia sedang mewujudkan visinya. Tidak ada produk artistik yang sepenuhnya dimiliki hanya satu orang, khususnya di dunia film dan penyiaran,” tulis Hemmer. 

Dari sisi industri, mempertahankan mereka untuk tetap berada di panggung tentu membawa keuntungan. Sejak ada cancel culture ini, mereka jadi harus berpikir ulang soal keuntungan tersebut: Dengan tidak mengindahkan protes warganet atas aksi-aksi para seniman tersebut, artinya reputasi pihak promotor, label, atau distributor karyanya dipertaruhkan. Salah-salah, mereka justru merugi karena reputasinya runtuh akibat mendukung para artis itu.

Tidak hanya pihak industri, berbagai artis lain yang pernah terlibat dengan terduga atau terdakwa pelaku kekerasan seksual juga melakukan tindakan canceling. Misalnya, Lady Gaga yang menarik dari semua layanan streaming lagu “Do What You Want”-nya di mana ia berkolaborasi dengan R. Kelly.

Opini tentang Public Figure yang Kena Skandal

Mengenai persoalan canceling idola-idola di dunia seni ini tak pernah menjadi area yang seluruhnya hitam atau putih, namun selalu ada area abu abu dimana pendapat tentang dua sisi diperdebatkan sampai sekarang. Serta setiap orang mempunyai pilihan dan alasan sendiri yang tidak bisa dengan mudah disebut benar atau salah, karena apa yang benar menurut kita belum tentu benar menurut mereka.

James Franco adalah seorang actor yang telah memerankan banyak film dan karakternya yang paling terkenal sebagai Harry Osborn di Spiderman. Namun siapa sangka dia diduga melakukan pelecehan seksual ke lima perempuan, termasuk siswanya di sekolah akting, dan menggunakan abuse of power.

Dari pemberitaan tersebut banyak fans langsung hilang respect sama dia, dan sebagian tidak ingin  menonton film-filmnya lagi. Ditambah lagi pernah disuatu waktu, caranya menanggapi isu ini waktu jadi guest star di The Late Show With Stephen Colbert.

Dia bangga mengambil tanggung jawab atas apa yang dilakukan, dan kalau terbukti berbuat kesalahan pasti dia mau memperbaikinya, tapi menurutnya yang ramai dibicarakan di Twitter (re: kasusnya) itu tidaklah benar.

Pernah suatu waktu penasaran dengan salah satu filmnya berjudul, Why Him?, jadi nonton lagi. Tapi sepanjang adegannya di film, mikirnya cuma, “Ini orang red flag banget.” Menurut pendapat sebagian warganet aktor yang kelakuannya kayak James ini enggak perlu dapat spotlight lagi di industri film maupun pemberitaan media (kecuali bahas kasusnya), karena berpotensi bikin lingkungan kerjanya enggak nyaman dan merasa in danger.

Terlebih dia enggak pernah mengakui kasus itu sebagai kesalahannya. Awal tahun ini dia setuju bayar sejumlah uang buat menyelesaikan gugatan itu, tapi menurut pendapat sebagian warganet hal itu dilakuin buat membersihkan namanya aja.

Tapi terlepas dari itu semua, hak setiap orang untuk menyikapi setiap masalah. Baik tetap menerima karya nya maupun menolak antara karya dan sang seniman, tidak ada jawaban yang benar maupun yang salah, yang ada hanyalah masalah persepektif setiap individu.

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »