banner 728x250
Opini  

Penyambutan Bebasnya Saipul Jamil dan Perkara Memaafkan Pemerkosa

Pelecehan Seksual

Bentuk Tindakan publik dan media yang “memaafkan” pemerkosa adalah suatu pelecehan besar pada korban. Karena yang perlu kita ketahui banyak luka bisa sembuh dengan berdamai, tapi tidak untuk trauma kekerasan seksual.

 

banner 336x280

Saya pikir yang suka melupakan banyak hal cuma negara, tapi ternyata media dan masyarakat kita pun tak jauh berbeda. Jika mungkin negara lupa pada pelanggaran HAM berat yang mereka sokong dari 1965 sampai 1998, kita sebagai masyarakat pun ikut amnesia pada kasus pemerkosaan yang dilakukan pedangdut Saipul Jamil. Pada hari kebebasannya dari penjara, pada 2 september lalu, ia disambut keluarga, kerabat, dan kuasa hukum dengan karangan bunga mirip memenangkan kejuaraan piala dunia suatu cabang olahraga. Sambil menaiki mobil Porsche merah, Saipul yang memberikan senyuman sumringah bahkan mengaku segera merilis lagu terbarunya bertajuk Sanggupkah Kau Setia. Dan yang perlu kalian tau, bukannya sepi akan job akibat kasus yang diperbuatnya melainkan tak tanggung-tanggung, lima tawaran pekerjaan di dunia hiburan sudah menyambutnya.

Dari sisi media pun tak kalah gempita merayakan kebebasan Saipul Jamil bak memenangkan kejuaraan bergengsi yang mengharumkan bangsa. Media seperti Detik.com dan Wowkeren misalnya, alih-alih membingkai Saipul sebagai “penjahat”, justru mengambil berita dari sudut pandang sang pelaku dengan topik “Saiful Jamil tak dendam sama sekali pada DS, korban anak di bawah umur yang melaporkannya pada 2016.”

Sekedar sebagai pengingat, Saipul sendiri divonis penjara 8 tahun karena telah melakukan perbuatan asusila pada DS dan menyuap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar mendapatkan pengampunan atas kesalahannya. Namun yang publik tak sadari, Saipul memperoleh remisi 30 bulan dan bebas murni dari bui.

Sementara, hingga artikel ini diturunkan, belum jelas apakah luka dan trauma DS benar-benar sembuh. Pada 2016, usai jadi korban Saipul, siswa kelas 3 SMA sampai tak berani keluar rumah, merasa minder, dan takut bertemu dengan orang-orang di sekitarnya. Ia juga mengigau dan berteriak setiap Subuh. Dalam pengakuannya, ia merasa mendengar suara Saipul yang membangunkannya dini hari, meminta ia memijatnya, dan menyentuh area vitalnya. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh korban lain Saipul, AW, yang mengaku harus berjibaku dengan trauma selama dua tahun.

Respons Publik yang Keliru

Sedangkan jika kita ambil dari sisi yang sama pada Negara Amerika, saat pemerkosa yang juga komedian Bill Cosby dibebaskan dari penjara, tak ada sambutan meriah ala Saipul Jamil. Meskipun tetap bertingkah tengil dengan menunjukkan tanda “V” lewat tangannya di depan wartawan, ia direspons senyap oleh publik. Bahkan konsultan krisis Risa Heller, kepada The New York Times berujar, “Tidak ada minat publik untuk Bill Cosby kembali. Saya tidak berpikir ada cara bagi Bill Cosby untuk membangun kembali kepercayaan massa.”

Hal serupa berlaku pula buat Harvey Weinstein yang mengaku diasingkan oleh industri Hollywood setelah ia melakukan kekerasan seksual pada puluhan perempuan. Tak hanya itu, empat direksi The Weinstein Company, yakni Robert Weinstein, Lance Maerov, Richard Koenigsberg, dan Tarak Ben Ammar juga langsung memutuskan memecat Harvey. Istrinya, Georgina Chapman meninggalkannya. Media Barat pun ramai-ramai menjulukinya sebagai penjahat Amerika.

Senada pada Benjamin Mendy, bek klub bola Manchester City juga diskorsing dari klubnya karena tuduhan terlibat dalam empat kasus pemerkosaan dan satu kekerasan seksual. Bahkan bagi pria yang telah mengharumkan nama klubnya, mengantar Prancis jadi juara Piala Dunia 2018 ini mengalami perlakuan yang serupa dan sedang menjalani proses penyelidikan oleh polisi setempat.

Terlepas dari karya mereka yang apik, perilaku buruk (melakukan kekerasan seksual) itu tak layak untuk dirayakan bak memenangkan kejuaraan yang membanggakan negeri. Karena itulah masyarakat kita perlu di edukasi mengenai perlunya melakukan cancel culture terhadap sineas yang jadi pelaku kekerasan seksual. Cancel culture ini juga penting sebagai pengingat bahwa kita tak akan pernah menormalisasi kekerasan seksual, apapun bentuknya, siapa saja pelakunya. Ini juga bentuk penghargaan kita pada para korban yang mengalami trauma mendalam.

Haruskah Memaafkan Pemerkosa?

Pada 2010, penyintas pemerkosaan Heather Curry, menyusun pengalaman pribadi memaafkan pemerkosanya dalam tesis di University of South Florida Scholar Commons. Tesis yang ia beri judul Beyond Survival: An Exploration of Narrative Healing and Forgiveness in Healing from Rape menguraikan proses penyembuhannya sebagai penyintas lewat berbagai metode. Hasilnya, ia berhasil menempuhnya lewat metode pengampunan yang ia ciptakan sendiri.

Tujuh tahun berselang, Thordis Elva, penulis Islandia memaafkan pemerkosanya, mantan pacar SMA, pria Australia Tom Stranger. Tak hanya memaafkan, Thordis juga membuat buku bersama dengan Tom berjudul South of Forgiveness (2017). Bagi Elva, memaafkan adalah tentang penyembuhan diri sendiri.

“Orang-orang entah bagaimana berpikir kamu menguntungkan pemerkosa ketika memaafkannya, tetapi buat saya, memaafkan adalah membebaskan kesalahan diri dan rasa malu yang telah saya tanggung secara salah,” kata dia pada TED kala itu.

Mungkin untuk banyak kalangan apa yang disampaikan Thordis memang relatif kontroversial. Seorang pengacara Josephine Cashman di forum yang sama menyebutkan, perkara memaafkan adalah hal yang sulit. Karena menurutnya banyak penyintas kekerasan seksual terpaksa harus hidup dalam trauma abadi dengan pemerkosanya karena norma masyarakat mengharuskan mereka menikah dan hidup sebagai pasangan. Maksud saya apakah normal untuk menjadikan pelaku dan korban sebagai pasangan yang nantinya akan mengarungi rumah tangga bersama, bagaimana jika sang korban di lecehkan secara paksa sehingga merusak mentalnya. Bahkan korban yang lain juga harus berjuang dengan trauma panjang yang bisa jadi bakal mengganggu kehidupan dia sehari-hari.

Reaksi trauma, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) telah menjadi momok paling umum dari mereka yang mengalami pelecehan seksual, kata Wilson dan Miller (2016) dalam penelitiannya berjudul Meta-Analysis of the Prevalence of Unacknowledged Rape. Ini belum termasuk dampak psikologi lanjutan, seperti perasaan menyalahkan diri sendiri, kesepian, rasa malu, atau pikiran untuk bunuh diri.

Karena itulah, tanpa bermaksud mengerdilkan riset soal pentingnya maaf bagi pemerkosa, buat saya tak perlu memaksa dan menyarankan korban untuk memaafkan pemerkosanya, karena setiap individu memiliki caranya masing masing dalam memperlakukan suatu masalah. Serta tindakan memaafkan pelaku bukan prasyarat untuk bisa sembuh dari luka dan trauma bagi sang korban. Hal yang paling benar untuk dilakukan terutama untuk seorang penyintas yang menyimpan dendam, kemarahan, atau kebencian justru perlu diberikan rasa aman dan pendampingan, alih-alih didesak memaafkan pelaku. Yang dilakukan Thordis, memaafkan pelaku bahkan membuat buku bareng tak perlu dipaksakan sebagai metode tunggal. Sebab, setiap individu korban pemerkosaan memiliki cara masing masing untuk sembuh dari luka dan traumanya sendiri (atau bahkan mungkin tidak bisa sembuh?).

Sehingga, dalam konteks ini, memberikan panggung khusus buat pemerkosa untuk berbicara, membela diri, atau menawarkan niatnya untuk “mendidik laki-laki” adalah tindakan yang sia-sia. Apakah suara laki-laki pemerkosa jauh lebih berharga daripada korban, sehingga kita benar-benar harus mendengarkan pemerkosa berbicara tentang tindakan keji mereka.

Buat saya sendiri, yang terpenting saat ini adalah mendorong agar budaya pemerkosaan justru dilenyapkan terlebih dahulu dari dunia ini. Korban Penyintas pelecehan seksual Ruby Hamad menulis opininya di SBS News, narasi pengampunan atau ajakan untuk merayakan perilaku pemerkosaan dan memaafkan pelaku adalah cara terselubung untuk mempertahankan status quo budaya pemerkosaan. Ini adalah jebakan yang dirancang untuk membuat kita tetap berputar dalam lingkaran kejahatan dan ketidakadilan yang tak berujung ini.

Ruby sendiri mengakui, memaafkan pelaku adalah hal tersulit yang mungkin takkan bisa ia lakukan. Saat ia berjuang selama 20 tahun menyembuhkan luka batin dan traumanya, pemerkosa yang melenggang bebas ini justru telah menjalani kehidupannya secara normal, punya pekerjaan yang stabil, dan istri dan anak yang sehat. Ini menyiksa dia luar dalam. Karena itulah, ia juga tak menyarankan kita untuk sama-sama memaafkan dan menoleransi perilaku pemerkosaan.

Namun semua kembali ke diri masing masing dalam menyikapi hal tersebut. Terlepas dari itu alangkah baiknya kita sebagai masyarakat tak ikut serta merayakan suatu kesalahan seolah seolah memenangkan kejuaraan, seperti yang di lakukan media media saat ini.

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »