banner 728x250
Opini  

Squid Game : Kenapa Orang Mau Bertaruh Nyawa Demi Uang?

Squid Game

Peringatan Spoiler Untuk yang belum nonton

“These people suffered from inequality and discrimination out in the world, and we’re giving them one last chance to fight fair and win.” Kalimat tersebut diucapkan oleh karakter Front Man (Lee Byung-hun) dalam serial Squid Game, menggambarkan latar belakang dan motivasi kenapa permainan itu diselenggarakan: Mengatasi masalah finansial.

Squid Game adalah serial drama Korsel yang tengah digandrungi banyak orang pada saat ini adalah Squid Game yang rilis melalui layanan streaming Netflix. Bahkan, Netflix mencatat Squid Game menjadi serial paling populer dengan 111 juta akun penonton hanya dalam beberapa hari sejak dirilis pada 17 September lalu.

banner 336x280

Namun, tidak seperti serial drama Korsel pada umumnya yang berisi cerita ‘cinta-cintaan’, Squid Game justru menghadirkan sebuah permainan masa kecil yang populer di negeri ginseng itu. Tetapi, hal ini bukan berarti menyenangkan.

Squid Game memulai ceritanya dengan merekrut 456 warga Korea yang punya kerentanan ekonomi, mereka “diculik” untuk berkompetisi dalam permainan anak-anak yang mempertaruhkan nyawa. Setiap nyawa peserta yang dieksekusi dalam permainan dihargai 100 juta won, sehingga satu-satunya pemenang akan meraih 45,6 miliar won, atau sekitar Rp542,64 miliar (kurs Rp11,9 per won).

Kesederhanaan premis dari serial yang digarap Hwang Dong-hyuk ini merepresentasikan kehidupan sosial bermasyarakat, bagaimana manusia rela berjuang demi menyelesaikan utang piutang dan memperbaiki strata ekonomi.

Yang jadi pertayaannya Kenapa orang mau bertaruh nyawa demi uang?

Yang perlu kita ketahui, faktanya  tidak hanya di film, di dunia nyata justru banyak orang rela korbankan nyawa demi uang. Coba sempatkan waktu kalian untuk mencari berita tentang Seorang pria di Setiabudi, Jakarta Selatan nekat akhiri hidupnya akibat mengalami kerugian investasi pada 23 Maret 2021 lalu.

Baca juga:  Penyambutan Bebasnya Saipul Jamil dan Perkara Memaafkan Pemerkosa

Lalu cari berita lagi tentang Seorang pria di Setiabudi, Jakarta Selatan nekat akhiri hidupnya akibat mengalami kerugian investasi pada 24 Maret 2021 lalu.

Kalau kita menanyakan pertanyaan, Apakah tidak memiliki uang yang banyak menjadi sumber masalah? Dan menjadi penyebab seseorang mengakhiri hidup?

Faktanya, Iya, Jika kita tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar, yang berarti tidak memiliki uang yang cukup untuk sekedar menikmati hidup. Maka tidak memiliki uang bisa menjadi masalah yang besar, terutama saat ternyata mempunyai hutang yang cukup besar juga.

Jawaban serupa pun akan muncul, meskipun memiliki uang namun terbatas dan hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

Selain itu, keragaman latar belakang para peserta membuat permainan lebih kompleks. Di balik kesamaan motivasi peserta berburu cuan, justru terdapat perbedaan kelas ekonomi yang mencolok karena tak semuanya berasal dari kelas menengah ke bawah.

Misalnya Cho Sang-woo (Park Hae-soo), kepala divisi investasi di perusahaan sekuritas yang bangkrut, sedang dikejar kreditur dan polisi. Entah apa penyebab kebangkrutannya, karakter Sang-woo menunjukkan banyaknya uang ternyata tak pernah cukup untuk kehidupannya.

Lebih dari itu, kehadiran karakter VIP tak berwajah—sekelompok laki-laki yang menyelenggarakan permainan ini, menggarisbawahi kerentanan masyarakat menengah ke bawah yang membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain tunduk pada para penguasa.

Tentang Uang dan Memprioritaskan Diri Sendiri

Disini permainan anak-anak tidak lagi sesederhana kelihatannya, sebagaimana itu dimainkan di masa kecil. Seperti mengamini idiom “go big or go home”, para peserta tampak menghalalkan segala cara untuk memenangkan keenam permainan, dan menunjukkan kerasnya persaingan hidup orang dewasa, hingga uang terlihat seperti jaminan hidup.

Baca juga:  Fenomena Jilbob Yang Menjamur dimana mana

Bisa dibilang nurani pun hilang ketika mereka tak tanggung-tanggung menyingkirkan satu sama lain. Misalnya dalam pemilihan anggota kelompok, peserta yang didominasi laki-laki memilih rekan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Peserta perempuan dan di atas 50 tahun tersingkirkan, karena dianggap fisiknya tidak cukup kuat dan berpotensi mengancam nyawa lewat kekalahan, bukan meraup pundi-pundi uang.

Lewat penggambaran tersebut, Squid Game mengajak penonton melihat realitas kehidupan manusia. Bak serigala berbulu domba, kenyataannya manusia sering kali mendekatkan diri pada lingkaran orang-orang yang dinilai membawa keuntungan untuk dirinya, lalu menyingkirkan mereka setelah menang.

Squid Game
Squid Game

Rasa kemanusiaan pun terkalahkan dengan iming-iming hadiah, meskipun harus mengorbankan nyawa orang lain. Sang-woo beberapa kali membunuh peserta dengan mengisi kantong pasangan bermainnya dengan kerikil bukan kelereng, mendorong pemain nomor 017 seorang di jembatan kaca, dan menggorok leher peserta bernomor 067 sebelum permainan terakhir.

Memang hampir semua pemain mengutamakan dirinya, kecuali Seong Gi-hun (Lee Jung-jae) yang masih memiliki sisi humanis. Di tengah persaingan, ia merangkul seluruh anggota kelompoknya, walaupun pada akhirnya terkhianati. Bahkan, ia berusaha menghentikan permainan keenam, ketika ia dihadapkan oleh Sang-woo dan harus membunuh sahabatnya itu untuk mengakhiri kompetisi.

Bisa dikatakan karakter Gi-hun mengingatkan penonton, masih ada segelintir orang berhati besar di tengah kejamnya dunia, dan bagaimana rasa kemanusiaan penting diutamakan di tengah kekacauan. Entah seperti apa kondisi keuangan karakter lainnya yang tidak begitu dijelaskan, tapi ayah satu ini cukup terbebani karena membutuhkan uang untuk biaya operasi ibunya dan membiayai anaknya, yang tinggal bersama mantan istrinya.

Baca juga:  Review Squid Game Serial Viral Besutan Netflix

Di kehidupan nyata, Gi-hun adalah contoh orang yang tidak mengorientasikan uang, dan menilai keberadaan orang-orang di sekitarnya lebih berharga dibandingkan harta.

Kekayaan Bukan merupakan Jaminan Kesejahteraan Hidup

Sebagai pemenang miliaran won, Gi-hun justru merasa kosong dan kehilangan orang-orang terdekatnya. Bukan hanya sang ibu, melainkan teman-teman seperjuangannya yang gagal mempertaruhkan nyawa. Bahkan, ia merasa bersalah karena membunuh mereka, meskipun tidak secara langsung mengotori tangannya.

Sikapnya itu merepresentasikan manusia yang menganggap dan mengejar uang sebagai sumber kebahagiaan, sering meminta rezeki berlebih ketika mengucapkan doa, serta terus merasa kurang atas segala yang dimiliki.

Tak bisa dibohongi, kita sering berandai-andai menikmati hidup dengan banyaknya uang dan mengatasi permasalahan. Padahal, nominal saldo ATM tidak menyelesaikannya begitu saja, atau menjamin kesejahteraan secara otomatis.

Karakter Oh Il-nam (Oh Young-soo) adalah contohnya. Sebagai seorang kaya raya dan salah satu dalang permainan tersebut, ia mengatakan hidupnya hampa dan membosankan karena memiliki harta melimpah, tetapi tidak kebahagiaan. Menurutnya, hidup tidak menyenangkan, baik bagi orang kaya maupun miskin.

oh young soo
oh young soo

Oleh karena itu, ia dan teman-temannya membuat permainan tersebut untuk bersenang-senang. Ini juga yang menggambarkan perbedaan cara orang berstatus sosial rendah dengan privilese finansial, dalam menemukan kesenangan. Pun setiap manusia akan terus mempertanyakan apa yang bisa dicari dan dicapai dalam hidup.

Mau apa pun kelas sosialnya, manusia akan selalu mendapatkan celah untuk melihat yang tidak dimiliki. Maka itu, terlepas dari permasalahan finansial yang ditampilkan lewat para karakternya, .

Pesan gue, untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup kita harus bijak dalam mengelola keuangan serta merasa cukup dengan apa yang dimiliki akan menyelamatkanmu dan keluargamu.

 

banner 468x60
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »